Melirik Potensi Pemasaran Porang Yang Menggiurkan

0
potensi pemaran porang

DuaSimpul, Potensi pemasaran porang – Porang atau yang dikenal dibeberapa daerah dengan sebutan iles iles merupakan tanaman umbi-umbian yang masuk ke suku Amorphophallus. Di Indonesia sendiri tanaman ini baru populer akhir-akhir ini dikarenakan suksesnya petani porang dalam penjualan ekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Australia, Vietnam, Taiwan dan ke Eropa.

Umbi porang memiliki pangsa pemasaran yang sangat bagus, bahkan dari tahun ke tahun permintaan dari luar negeri terus meningkat. Berdasarkan data dari Badan Karantina Nasional, di tahun 2018 jumlah ekspor porang mencapai 254 ton, dengan nilai mencapai 11 milyar lebih. Tentu harga yang sangat fantastis bukan?.

Melirik Potensi Pemasaran Porang

Akhir-akhir ini budidaya porang mulai dilakukan secara serius dibeberapa daerah di Indonesia. Mengingat potensi pemasarannya yang semakin terbuka lebar, para petani pun tidak ragu-ragu untuk membudidayakannya dalam jumlah yang banyak.

Berikut beberapa poin yang bisa anda pahami terkait dengan tanaman porang, pembudidayaannya serta potensi pemasaran porang di Indonesia:

Seperti Apa Tanaman Porang?

Secara fisik, tanaman ini sangat mirip dengan suweg. Porang (Amorphophallus oncophyllus) memiliki daun bercabang-cabang dengan ditopang oleh 1 batang lurus. Batangnya berwarna hijau dan terdapat totol putih bulat layaknya panu pada kulit. Yang membedakan dengan suweg, tanaman ini memiliki bintil di sela-sela ruas cabang daun sebagai bahan perkembangbiakan.

Karena umbinya yang gatal jika dimakan dan saat terkena kulit, tanaman ini tidak banyak dilirik warga. Bahkan dulunya tanaman ini banyak dibuang karena dianggap sebagai makanan ular oleh masyarakat sekitar. Namun semenjak tau bahwa potensinya luar biasa, akhirnya berbondong-bondong membudidayakannya.

Dari teknis budidaya, tanaman porang memiliki adaptasi yang sangat bagus. Dapat ditanam pada ketinggian 0 hingga 700 mdpl, dengan kondisi full maupun kekurangan penyinaran. Saat ini kebanyakan tanaman ini ditanam pada sela-sela tanaman besar seperti di hutan jati.

Apa Saja Fungsi Dan Kegunaannya?

Porang mengandung zat yang dinamakan konjac, di Jepang umbi ini dibuat tepung konjac. Fungsinya sangat banyak, selain sebagai bahan makanan seperti dalam pembuatan mie shirataki serta konnyaku, juga dimanfaatkan dalam dunia industri. Contohnya lem ramah lingkungan, campuran cat, campuran bahan dalam pembuatan kain katun & wol, penjernih air, serta sebagai bahan isolator listrik.

Dari sisi kesehatan, umbinya sering dimanfaatkan sebagai bahan glukomannan powder. Bahan ini dimanfaatkan sebagai obat dalam penyembuhan kelebihan kolestrol. Kandungan serat yang ada juga sangat baik dimanfaatkan sebagai sarana diet. Di beberapa industri makanan, tepung porang dimanfaatkan sebagai jeli.

Prospek Potensi Pemasaran Porang

potensi pemasaran porang

 

Saat ini negara yang paling banyak membutuhkan porang adalah Jepang, disusul China, Korea, Australia, Vietnam dan Taiwan. Akhir-akhir ini bahkan sudah dipasarkan menuju benua Eropa dan Amerika dengan pesanan yang tak sedikit.

Kebanyakan porang yang di ekspor masih berasal dari hutan. Artinya pembudidayaan porang masih sangat sedikit. Bahkan Kementrian Pertanian saat ini terus mendorong peningkatan potensi pemanfaatan umbi porang, sehingga prospek pemasaran porang baik di dalam maupun luar negeri terus meningkat.

Kerjasama antara petani dengan pemerintah setempat tentu sangat dibutuhkan. Terlebih bagi para petani kecil yang sulit mendapatkan akses dengan para distributor, tentu akan sulit untuk melakukan ekspor. Peran pemerintah dalam meningkatkan promosi akan pemanfaatan porang juga menjadi harapan para petani.
Bagaimana Potensi Penghasilannya?

Jika dihitung dari segi pembudidayaan pada lahan tegalan yang khusus untuk penanaman, bukan ditanam disela-sela hutan, maka potensi hasil budidaya porang mencapai 25 ton / hektarnya. Hitungan ini untuk usia tanam antara 2 hingga 3 tahun pembudidayaan. Karena tanaman ini pada musim kemarau akan mati sementara, nanti akan tumbuh tunas dari umbinya kembali.

Bila satu hektar bisa menghasilkan 20 ton umbi basah yang dihargai rata-rata pada kisaran Rp2500 / kg, maka hitungannya yakni bisa menghasilkan hingga 50 juta. Tentu ini adalah hitungan kasaran sebelum dikurangi biaya produksi, biaya pemanenan dan masa perawatan tanaman.

Saat ini berbagai pihak, terus berupaya mengembangkan tanaman ini. Misalnya pemanenan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya kurun 6 bulan. Dan di Madiun, pembudidayaan porang bahkan bisa mencapai 100 ton umbi basah per hektar. Berbagai inovasi kedepannya tentu akan membuat banyak pihak melirik pembudidayaan tanaman porang.

Harga Jual Porang

Nilai harga jual ekspor dan lokal berbeda cukup jauh. Untuk umbi kering siap olah di daerah lokal dihargai 10 sampai 12 ribu, namun untuk pasar eskspor dapat mencapai 20 ribu per kilonya. Saat ini harga jual masih sangat tidak stabil karena stok suplay kebutuhan porang tidak dapat diprediksi ketersediaanya.

Bila prospek semakin digarap, dan kebutuhan semakin banyak harga tentu akan semakin stabil. Walaupun banyak orang yang membudidayakannya, harga jual tetap akan stabil karena kebutuhan porang masih sangat terbuka lebar di pasar internasional.

Alasan lain yang mendasari harga porang tetap mahal adalah karena lamanya panen. Tidak seperti umbi-umbian lainnya, tanaman ini bisa dipanen dalam kondisi optimal saat usia 2 hingga 3 tahun. Semakin lama umbi semakin besar, tapi kualitas kandungan yang ada didalamnya berkurang. Bila terlalu muda dipanen, juga hasilnya kurang bagus.

Sentra Penghasil Porang

Dikarenakan banyak pihak yang melirik potensi pemasaran porang yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sentra penghasil umbi porang pun turut meluas. Diantaranya ada Wonogiri, Nganjuk, Pasuruan, Madiun, Maros, dan juga Bandung. Daerah ini menjadi sentra penghasil porang yang cukup besar di Indonesia.

Wilayah Jawa Timur merupakan penyuplai terbesar untuk pasar ekspor. Bahkan 100% hasil panennya di ekspor ke berbagai negara. Masyarakatnya sendiri bahkan hanya sebagian kecil saja yang tahu akan tanaman satu ini. Saat ini di Indonesia belum ada satupun industri yang memanfaatkannya untuk bahan pangan ataupun lainnya.

Demikianlah beberapa potensi pemasaran porang yang begitu menggiurkan yang bisa duasimpul bagikan. Bila anda punya tanah yang nganggur, ataupun hutan dengan tanaman yang sudah tinggi, tidak ada salahnya mencoba membudidayakannya. Karena prospek kedepannya sangat bagus dengan harga yang stabil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here